Ini adalah impian masa kecil. Ya, mungkin hanya banyolan anak kecil yang ngga ngerti bagaimana perjuangan menggapainya. (dulu) Jika guru TK bertanya "Novi, apa cita-citamu?", akupun dengan tegas menjawab "DOKTER bu." Hahaha namanya juga anak TK. Eh, tapi ngga tau kenapa sampai sekarang (kelas 2 SMA) kalau aku ditanya tentang pertanyaan tadi, aku masih entengnya jawab "DOKTER". Tapi untuk kali ini aku mulai mengerti betapa arti perjuangan masa depan.
Jujur, menurutku pribadi aku bukan anak yang bisa dibilang "pandai', engga sama sekali. Aku menilai diriku pas-pasan. Jika memang pas SMP aku pernah dapet peringkat dua besar sebanyak 3 kali, tapi aku menilai itu bukan karna kepandaian, hanya kebetulan. Begitulah aku menilainya. Aku melihat teman-teman sekelilingku lebih banyak yang WOW daripada aku. Bukan merendah, tapi ini NYATAAAA!!! Coba kalian pikir, aku dapet peringkat di ujung semester, bisa dibilang akhir. Itu yang namanya proses, bukan ujuk-ujuk. Karena aku sadar dan sadar banget, kalau aku bukan anak pinter. Pas kelas 2 semester 1 aku peringkat 17. Bayangkan guys, 17???? Yaaaa, ngga salah lagi. (Ditekankan lagi, ini aku cerita masa SMPku). Sampai pas bener-bener aku pengen berubah, aku les, aku jungkir balik belajar, dan disemester 2 aku bisa dapet peringkat 1. Temen-temen sampai terheran-heran. Kok bisa???? Dan saat itulah aku sadar, semua itu butuh perjuangan. Bukan hanya pasrah sama kenyataan. It's life.
Dan di SMA aku mengalami masa buruk itu lagi. Aku dapet peringkat 13 disemester awal aku masuk SMA. Aku sadar guys, saat itu aku bener-bener males yang namanya BELAJAR. Kadang sempet tersirat dipikiran, ngapain belajar toh yang pinter dikelas cuma anak itu-itu aja. Tapi pada akhirnya aku sadar, aku mengecewakan orang tuaku. Orang tua mendukung banget cita-cita masa kecilku, aku paham itu. Aku harus optimis untuk masa depanku, masa depan Ayah Ibuku.
Btw, saat ini aku bener-bener (nanti) kuliah di FAKULTAS KEDOKTERAN UB/UNEJ/UNS/UMM, dan (nanti) ambil SPESIALIS SARAF.
Temen-temen, mohon doanya, untuk cita-cita dan impian kita bersama...
Selasa, 17 Februari 2015
Sabtu, 14 Februari 2015
Tentang Ayah
Ayah...
Engkau yang dahulu kuat nan gagah
Merajuk raih penuh semangat
Tak pernah mengenal lelah
Tak pernah mengenal risau
Engkau selalu tegar
Tegar menghadapi apapun
Ayah...
Kini ragamu mulai rentan
Ragamu tak sekuat dulu
Ketika aku masih kecil
Tak usah memandang jauh
Ketika kemarin, 31 Januari 2015
Aku masih melihat kegagahanmu
Sosok seorang ayah
Dan...
Saat ini, engkau begitu rentang
Tangismu begitu sendu rindu
Menanti kami, anak-anakmu
Yang tak kunjung pulang menuntut ilmu
Ego kerasmu kini memudar
Lebih sabar
Namun tangismu melebihinya
Terheran...
Kemana ayah yang dulu marah ketika anaknya pulang larut malam?
Menanti cemas penuh kegelisahan
Kini...
Hanya sanggup menangis saja
Kami tahu
Engkau khawatir
Tapi hanya dengan tangisanlah engkau dapat mengungkapkannya
Ayah...
Aku takut
Usiamu tak lagi muda
Begitu pula kami
Anak-anakmu
Hingga saat ini
Kami belum dapat
Memberi sepercik kebahagiaan
Untukmu
Ayah...
Maafkan kami, anak-anakmu
Yang selalu enggan menerima nasihatmu
Yaa Allah...
Berikan umur yang panjang pada Ayah dan Ibu kami
Dan kami Yaa Allah, anak-anak mereka
Berikan rezeki, umur, kesehatan, dan keharmonisan dalam keluarga
Jadikanlah kami, anak-anak yang sholeh dan sholihah
Yang dapat menbahagiakan kedua orang tua kami
Menjadi apa yang mereka inginkan
Atas ridho-Mu
AMIN...
Engkau yang dahulu kuat nan gagah
Merajuk raih penuh semangat
Tak pernah mengenal lelah
Tak pernah mengenal risau
Engkau selalu tegar
Tegar menghadapi apapun
Ayah...
Kini ragamu mulai rentan
Ragamu tak sekuat dulu
Ketika aku masih kecil
Tak usah memandang jauh
Ketika kemarin, 31 Januari 2015
Aku masih melihat kegagahanmu
Sosok seorang ayah
Dan...
Saat ini, engkau begitu rentang
Tangismu begitu sendu rindu
Menanti kami, anak-anakmu
Yang tak kunjung pulang menuntut ilmu
Ego kerasmu kini memudar
Lebih sabar
Namun tangismu melebihinya
Terheran...
Kemana ayah yang dulu marah ketika anaknya pulang larut malam?
Menanti cemas penuh kegelisahan
Kini...
Hanya sanggup menangis saja
Kami tahu
Engkau khawatir
Tapi hanya dengan tangisanlah engkau dapat mengungkapkannya
Ayah...
Aku takut
Usiamu tak lagi muda
Begitu pula kami
Anak-anakmu
Hingga saat ini
Kami belum dapat
Memberi sepercik kebahagiaan
Untukmu
Ayah...
Maafkan kami, anak-anakmu
Yang selalu enggan menerima nasihatmu
Yaa Allah...
Berikan umur yang panjang pada Ayah dan Ibu kami
Dan kami Yaa Allah, anak-anak mereka
Berikan rezeki, umur, kesehatan, dan keharmonisan dalam keluarga
Jadikanlah kami, anak-anak yang sholeh dan sholihah
Yang dapat menbahagiakan kedua orang tua kami
Menjadi apa yang mereka inginkan
Atas ridho-Mu
AMIN...
Sabtu, 31 Januari 2015
Ayah...
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk hm...
Kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu untuk menuai padi milik kita
Meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk hm...
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Kau tetap setia
Sabtu, 10 Januari 2015
Tembang Dolanan
Bocah-bocah bagus
Yo ojo nakal-nakal
Ojo mung golek molo
Ojo lali Sholato
Sinauo ben dino
Nak nak manut wong tuwo
Ben ben uripmu mulyo
(Menggunakan nada tembang dolanan "Cublak-Cublak Suweng"
Yo ojo nakal-nakal
Ojo mung golek molo
Ojo lali Sholato
Sinauo ben dino
Nak nak manut wong tuwo
Ben ben uripmu mulyo
(Menggunakan nada tembang dolanan "Cublak-Cublak Suweng"
Langganan:
Postingan (Atom)